Anak Muda Papua Harus Jadi Pelindung Alam, Bukan Korban Eksploitasi

Okt 29, 2025 | Berita

Masa depan hutan dan masyarakat adat Papua ada di tangan anak muda. Melalui program pendampingan di tiga wilayah utama yakni Pegunungan Arfak, Sorong Selatan, dan Raja Ampat Bentara Papua berkomitmen membangun kapasitas generasi muda agar menjadi pelopor pelindung alam, bukan korban dari arus eksploitasi sumber daya alam. Berikut wawancara dengan perempuan pemberani yang merupakan Direktur Yayasan Bentara Papua, Yunes Magdalena Bonay, Selasa (28/10/2025).

Apa yang melatarbelakangi Bentara Papua berfokus pada pendampingan anak muda di tiga wilayah—Pegunungan Arfak, Sorong Selatan, dan Raja Ampat?

Kami percaya masa depan hutan dan masyarakat adat Papua ada di tangan generasi muda. Karena itu, Bentara Papua membangun program yang mendorong anak-anak muda menjadi pelindung alam, bukan korban pergaulan bebas atau arus eksploitasi sumber daya alam. Harapan kami sederhana tapi besar—mereka bisa menemukan jati diri, melihat potensi yang mereka punya, dan berperan aktif menjaga tanah dan hutan mereka sendiri.

Apa temuan penting dari hasil asesmen Bentara Papua di tiga wilayah itu?

Kami menemukan dua kelompok besar di kalangan anak muda. Ada yang berpendidikan tinggi dan berprestasi, tapi juga banyak yang putus sekolah dan kehilangan arah. Anak-anak muda yang putus sekolah sering hanya tinggal di kampung tanpa kegiatan. Sebagian yang pergi ke kota malah kembali dengan kebiasaan buruk seperti mabuk dan membuat keributan. Kami merasa sayang sekali melihat potensi mereka terbuang sia-sia.

Dari keprihatinan itu lahirlah program “Rumah Belajar” atau “Stasiun”?

Betul. Kami mendirikan tiga “stasiun” di tiga lokasi dampingan. Tempat ini bukan hanya ruang belajar, tapi juga rumah singgah. Anak muda bisa berkumpul, berkreasi, dan belajar bersama—ada yang main gitar, mengukir, atau belajar keterampilan baru. Semua kami wadahi di sana. Di setiap stasiun, kami menempatkan dua sampai tiga pendamping, laki-laki dan perempuan, agar bisa mendampingi sesuai konteks sosial dan kebutuhan gender. Pendekatan ini penting agar mereka merasa nyaman dan tumbuh dengan pendamping yang memahami pengalaman mereka.

Apa kaitan kegiatan seperti Youth Forest Camp dengan pendampingan ini?

Youth Forest Camp menjadi bagian penting dari proses belajar itu. Kegiatan ini mempertemukan pemuda adat, organisasi lingkungan, universitas, dan pemerintah. Kami ingin anak-anak muda belajar langsung dari berbagai pengalaman menjaga alam. Kami menggandeng mitra seperti Greenpeace Indonesia, Econusa, ISBI Jayapura, Unimuda Sorong, dan perwakilan pemerintah. Setiap mitra punya pendekatan berbeda—ada yang lewat kopi, kampanye, riset, atau pendidikan. Kami ingin anak muda Papua melihat semua cara itu, lalu menemukan jalan mereka sendiri.

Apa potensi ekonomi lokal yang ditemukan selama pendampingan di tiga wilayah?

Banyak. Di Pegunungan Arfak, masyarakat mulai menanam kopi di lahan tidur untuk menambah penghasilan tanpa merusak hutan. Di Sorong Selatan, potensi sagu sangat besar. Dari situ kami masuk lewat anak muda dan masyarakat adat, karena bagi mereka menjaga hutan sama dengan menjaga dapur. Kini, tepung sagu hasil produksi lokal sudah dijual di toko-toko di Papua Barat Daya, Sorong, bahkan Manokwari.

Sementara di Raja Ampat, kami fokus pada wilayah seperti Salawati dan Batanta yang belum tersentuh pariwisata. Di sana masyarakat mulai memproduksi minyak kelapa sendiri. Mereka tidak lagi bergantung membeli dari kota. Itu bentuk kemandirian ekonomi yang lahir dari potensi lokal.

Bagaimana Bentara Papua menjaga agar program ini tidak justru mendorong eksploitasi alam?

Kami tidak mengajarkan eksploitasi. Prinsip kami adalah hidup sejahtera dari alam tanpa menghancurkannya. Kami ajarkan kemandirian dan ekonomi yang berkelanjutan. Masyarakat harus memahami bahwa kesejahteraan sejati datang dari hubungan yang selaras dengan alam, bukan dari menebang hutan.

Menurut Anda, apa makna paling penting dari Youth Forest Camp tahun ini?

Ini bukan sekadar kegiatan berkemah atau seminar. Ini ruang perjumpaan lintas komunitas dan generasi untuk membangun kesadaran ekologis bersama. Anak-anak muda belajar bahwa perubahan iklim bukan isu jauh di luar sana—itu nyata di depan mata mereka.

Kami juga menghadirkan juru kampanye hutan dari Greenpeace, akademisi, dan pegiat adat. Pesan mereka satu: anak muda Papua harus berdiri di barisan depan menjaga hutan.

Apa yang akan menjadi puncak dari seluruh kegiatan ini?

Puncaknya bukan seremonial, tapi refleksi bersama. Kami akan menutup dengan malam puncak, di mana semua peserta membuat satu seruan bersama untuk penyelamatan hutan dan sumber daya alam Papua. Ini bukan sekadar acara, tapi panggilan hati—agar generasi muda Papua berani berkata: “Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”(*)

 

 

Sumber: Jubi.id