Saat Pendidikan Berasrama Menjadi Poros Pendidikan di Tanah Papua

Nov 4, 2025 | Berita

Pendidikan di Tanah Papua sudah dimulai sejak akhir 1800-an oleh para misionaris. Tetapi pendidikan formal atau modern di Tanah Papua di mulai oleh Zending pada 25 Oktober 1925. Saat itu sekolah guru dibuka di Teluk Wondama, tepatnya di Kampung Miei, Distrik Wasior Kota.

Memperingati satu abad peradaban modern di Papua pada 25 Oktober 2025, Jubi menulis profil salah satu perempuan Papua pertama yang mengikuti pendidikan modern ketika Tanah Papua masih dikuasai Kerajaan Belanda. Namanya, Marthina Damimetouw.

Usianya kini 85 tahun. Tubuhnya sudah tidak tegak lagi seperti dulu. Dengan punggung yang mulai bungkuk, ia berjalan perlahan dari kios di depan rumahnya, usai membelikan minuman, permen, dan kudapan untuk jurnalis Jubi.

“Kalau bosan, saya masih juga ke mana-mana sendiri,” katanya berusaha menjelaskan tentang dirinya yang sampai hari ini cukup mandiri mengurus dirinya sendiri. “Kalau bosan, Tanta suka ke [Supermarket] Mega, beli kue, minum, duduk sebentar, terus pulang,” katanya.

Tidak setiap saat ia menemukan teman berbincang. Jika ada yang datang dan berbincang dengannya, mereka menanyakan kabar, atau sekadar bertanya Marthina sedang menunggu siapa, atau basa-basi lainnya.

Saat berjalan, ia sudah tidak secepat dulu. Namun, kondisi itu tidak menghalanginya untuk kongko sendirian, menikmati masa tuanya. Ia bahkan masih pergi ke mana-mana menggunakan angkutan umum. “Kalau menyeberang, selalu ada orang baik yang membantu,” ujar Marthina.

Dia adalah perempuan Papua pertama yang memimpin Pusat Pembinaan dan Pengembangan Wanita Gereja Kristen Injili di Tanah Papua. Lembaga yang namanya kerap disingkat P3W-GKI itu adalah lembaga pendidikan perempuan milik Gereja Kristen Injili di Tanah Papua.

Tidak heran jika ia menjadi perempuan Papua pertama yang memimpin lembaga itu. Ia pernah menempuh pendidikan di Negara Kincir Angin Belanda selama tiga tahun. Ia juga pernah menempuh pendidikan di Papua Nugini selama dua tahun.

Marthina adalah simbol perempuan Papua terdidik dan mandiri, perempuan yang bekerja dengan penuh komitmen di mana pun dia bertugas. Pada awal 1970, dia sudah menyetir mobil sendiri.  Sungguh pemandangan yang langka saat itu.

“Semua berkat pendidikan berasrama di Meisjes Vervolgs School. Saya [juga] ikuti pendidikan yang lebih berat di ODO, [sekolah guru pada masa Tanah Papua dikuasai Belanda], [juga pendidikan yang saya tempuh] waktu [saya] di Belanda. Saya sudah biasa,” katanya.

Sekolah Rakyat (Dorpsschool) di Zaman Belanda (1947-1951)

Marthina lahir di Kampung Bukisi, Distrik Yokari, Kabupaten Jayapura, Papua, pada 18 Juni 1940. Ia adalah putri pertama dari pasangan Lukas Damimetouw dan Ribka Nerokopouw.

Kampung halamannya, Kampung Bukisi, terletak di semenanjung pasir, pesisir utara pulau besar Papua, menghadap Samudera Pasifik. Di sebelah selatan kampung itu terdapat sebuah telaga.

Marthina bercerita bahwa Bukisi berasal dari bahasa daerah Yokari. “Bu” artinya air, dan “kisi” artinya pasir. “Jadi itu nama kampungnya. Tidak tahu siapa yang kasih nama, tapi itu nama kampung itu. Sesuai dengan [lingkungan] kampung di situ, ada telaga dan pasir,” katanya.

Marthina mulai menempuh pendidikan dasar di Sekolah Rakyat Kampung Bukisi pada 1947, ketika ia berusia 7 tahun. Saat itu Perang Dunia II baru saja berakhir. Ketika itu, tentara Sekutu pernah sampai ke kampung mereka. Menara dan gedung gereja di Kampung Bukisi sempat hancur karena bom saat PD II.

Butuh cukup waktu lama untuk memperbaiki gereja kampung, tempat belajar mereka. “Saat itu semua anak laki-laki dan perempuan wajib bersekolah. [Semua anak yang] sudah umur 7 tahun [wajib] masuk sekolah,” katanya.

Di kampung itu hanya ada satu orang guru asal Sanger, Sulawesi Utara. Guru itu mengajar untuk semua anak, mulai dari kelas 1 sampai kelas 3. “[Beliau adalah] Bapak Guru Lamberth Siliwir, mengajar pelajaran membaca, menulis, dan berhitung di sekolah,” katanya.

Untuk berhitung, semua murid kelas 3 wajib hafal perkalian sebelum dinyatakan lulus. “Waktu itu masih zaman [murid menulis dan mencatat memakai] batu tulis. Jadi kami punya hafalan bagus. Pelajaran hari ini, langsung hafal, karena [tulisan di] batu [tulis] langsung dihapus setelah dipakai,” katanya.

Guru pada masa itu juga mengajar dengan membawa sebilah rotan. Rotan itu digunakan untuk menghukum murid yang tidak menyelesaikan tugas, atau tidak menghafal pelajaran sebelumnya. Guru akan menghukum dengan memukulkan rotan di betis atau telapak tangan si murid.

Setiap murid perempuan memiliki tugas tambahan. “Kami bergiliran membantu Nyorah, [sebutan untuk istri guru], istilahnya ‘jaga dapur’,” katanya.

Setiap hari, dua anak perempuan secara bergantian menolong Mama Nyorah di rumahnya. “Jadi kalau sudah tahu [siapa] yang mau jaga dapur, jam 05.00 [anak itu] sudah bangun, pegang api [obor] dan menuju ke sana. Di dapur, Mama Nyorah dorang masih tidur. Kami bikin api, masak air, tunggu [perintah],” katanya.

Para murid perempuan juga punya tugas lain. “Setiap kali kami punya giliran jaga dapur, tumbuk padi untuk bubur beras merah. [Saya] masih ingat [rasanya], enak, hehehe …,” katanya.

Setelah membantu Nyorah, para murid perempuan lantas pulang, lalu bersiap berangkat ke sekolah. Pembelajaran di sekolah rakyat berlangsung sejak pukul 07.30 hingga 12.00.

Pada sore hari, para siswa juga diajarkan berkebun. “Mama masih ingat, dulu Bapak Guru orang Sanger mengajar kami untuk menanam padi ladang,” katanya.

Saat panen, semua siswa ke kebun panen padi. Selain itu, siswa Sekolah Rakyat juga belajar beternak kambing, menganyam nyiru, dan membuat garam. “Ini mau bilang belanga ka, wajan besar sekali, isi air laut di situ, baru kami masak,” katanya bercerita cara para murid membuat garam untuk dikonsumsi warga kampung.

Tugas lain para murid Sekolah Rakyat Kampung Bukisi adalah mencari kayu bakar untuk rumah guru. Seminggu sekali, para murid mengumpulkan kayu bakar untuk kebutuhan rumah guru.

Selain mengerjakan tugas sekolah, Marthina juga menghabiskan waktu untuk bermain di telaga. Sebagai anak pertama, ia ikut menjaga adiknya.

Ia lulus dari Sekolah Rakyat Kampung Bukisi pada tahun 1951, dan tinggal di kampung hingga tahun 1953. Setelah dua tahun berlalu, barulah ia melanjutkan pendidikannya ke Meisjes Vervolgs School atau MVVS di Genyem. Genyem kini termasuk wilayah Kabupaten Jayapura.

MVVS adalah sekolah khusus perempuan yang setara dengan pendidikan dasar kelas 4 sampai 6. MVVS di Genyem dibuka sejak tahun 1951.

Marthina mengingat bapak dan mamanya sebagai dua orang yang rajin beribadah dan melayani di gereja. Kedua orangtuanya bahkan bisa dikatakan menjadi tangan kanan para guru yang bertugas di kampung itu.

Bapaknya, Lukas Damimetouw adalah pria yang tak segan mengerjakan pekerjaan perempuan, apalagi jika istrinya, Ribka Nerokopouw, sedang berhalangan. Umumnya laki-laki hanya akan menokok sagu. Sedangkan urusan meremas tokokan sagu biasanya menjadi pekerjaan perempuan.

Namun, berbeda dengan Lukas Damimetouw. “Selain tokok [sagu], kalau mama sakit, bapak sendiri tokok. Dan dia bisa ramas sendiri lagi. Begitu itu Bapak,” ujar Marthina.

Lukas Damimetouw tidak memandang sebelah mata terhadap perempuan. Itulah yang menurut Marthina membuat ayahnya mengizinkan Marthina melanjutkan pendidikannya ke Meisjes Vervolgs School atau MVVS di Genyem.

Sekolah Sambungan Putri ‘Meisjes Vervolgschool’ (MVVS, 1953-1956)

Marthina mengenang pendidikannya di Meisjes Vervolgs School atau MVVS Genyem. Sekolah MVVS itu adalah sekolah berasrama. Jumlah muridnya terbatas, hanya 30 orang di setiap angkatan. Para muridnya adalah anak perempuan dari seluruh wilayah Jayapura, mulai dari Sarmi sampai Hollandia, sebutan untuk Kota Jayapura pada masa itu.

Marthina harus meninggalkan kampung dan tinggal di asrama sampai masa liburan tiba pada bulan Agustus. Letak sekolahnya pun jauh dari Kampung Bukisi.

Untuk sampai ke Kota Genyem, Marthina diantar oleh bapaknya. Mereka menyertai Pak Guru yang juga mengantar putrinya yang baru lulus sekolah rakyat bersama Marthina. Saat itu, mereka harus berjalan kaki menempuh jarak sekitar 56 kilometer dari Kampung Bukisi hingga tiba di Genyem. Marthina mengingat mereka berempat harus berjalan kaki selama dua hari untuk tiba di asrama yang berada di Bukit Keduton, Kota Genyem.

“Waktu itu gedung asrama belum lengkap semua. Tukang-tukang masih kerja di situ. Jadi kami harus bantu angkat karang untuk tukang-tukang bikin semen atau bangunan,” katanya.

Di MVVS, para pelajar putri belajar pengenalan Alkitab, Bahasa Belanda, Bahasa Melayu, matematika, menulis, ilmu bumi, sejarah, geografi, ilmu alam, dan kepanduan (Pramuka). Di sekolah khusus perempuan itu, ada pelajaran khusus seperti ilmu kesehatan, merawat bayi, pekerjaan tangan, menjahit, pekerjaan rumah, memasak, dan kerajinan tangan.

“Kami belajar juga bagaimana mengurus bayi, anak, dan keluarga. Jadi harapannya, sebagai perempuan yang selesai dari [sekolah], gadis, dan tidak melanjutkan [pendidikan] ke mana-mana, dia sudah ada bekal untuk berumah tangga. [Lulusan MVVS sudah] bisa urus rumah tangga dan membantu orang di sekitarnya,” katanya.

Dari semua mata pelajaran yang diajarkan di MVVS, Marthina paling menyukai pelajaran bahasa dan menyanyi. “Itu menyanyi, memang saya betul hobi. Sampai sekarang, di rumah ini, kalau saya masuk baring tempat tidur, saya selalu menyanyi,” katanya.

Ada empat orang guru yang mengajar MVVS Genyem. Sejumlah dua orang guru berkebangsaan Belanda, dan dua orang lainnya adalah orang Papua. Selain itu ada beberapa staf yang ikut membantu operasional sekolah, seperti memasak misalnya.

Ada juga seorang perawat yang memberi pelajaran kesehatan. Semua pembelajaran di MVVS Genyem disampaikan dalam dua bahasa (bilingual), yaitu Bahasa Belanda dan Bahasa Melayu.

Marthina mengingat kehidupannya di asrama sangat teratur, dan ditata aturan ketat yang dijalankan para guru. Dalam usia yang sangat muda, sekitar 13 tahun, para perempuan yang bersekolah di sana dibangunkan dengan lonceng pada pukul 05.00.

“Lonceng bunyi, semua ada tempat untuk apel. Ibu guru lihat, semua sudah ada, siap untuk mandi, lalu siap tunggu lonceng untuk makan, siap untuk masuk kelas. Jam 13.00 keluar makan, istirahat. Nanti sore ada tugas lagi,” katanya.

Untuk makan sehari-hari di dalam asrama, ada pekerja yang memasak. Akan tetapi, para siswa juga mendapat giliran untuk membantu di dapur. Selain itu, para murid di sana juga mendapat giliran membantu di rumah guru.

Pada siang hari, para murid MVVS Genyem bisa beristirahat. Pada sore hari, para siswa bekerja bakti di halaman, membersihkan kebun di sekitar asrama, juga secara bergilir mencuci.

“Nanti juga ada yang punya giliran untuk cuci pakaian, [dan mencuci] kelambu-kelambu. Di dekat Genyem ada sungai besar. Dulu ada drum-drum yang sudah siap untuk masak [air yang dipakai untuk mencuci] pakaian. Nanti lonceng [berbunyi, berarti] sudah jam untuk berhenti [mencuci], semua berhenti. Tunggu untuk tugas berikut apa, masuk kelas, dan sebagainya,” ujarnya.

Pada malam hari, para siswa akan belajar bersama, mengerjakan pekerjaan rumah. Pada pukul 21.00, semua siswa diwajibkan tidur. “Tidak boleh ada cerita-cerita. Tidur itu sudah langsung masuk dalam kelambu, mesti langsung tidur,” katanya. Marthina mengingat, akan ada guru yang datang untuk memastikan para murid tidur.

Semua tugas dan kepatuhan murid terhadap kedisiplinan asrama akan masuk dalam penilaian sekolah. Kondisi itu membuat para siswa bekerja dan menjalankan dengan penuh tanggung jawab.

“Pengalaman itu saya pakai terus di Padangbulan, [di P3W]. Jadi jam 05.00 lonceng sudah bunyi harus bangun,” katanya.

Untuk memperlancar setiap murid menulis dan berbahasa Melayu ataupun Belanda, setiap siswa juga diwajibkan memiliki kawan pena dan rutin menulis surat kepada kawannya. “Saya punya [sahabat pena] dari Biak Utara, Polovina Maran. Dia siswa di MVVS Serui,” katanya.

Menurutnya, kebiasaan sederhana di asrama itulah yang membentuk dirinya  menjadi perempuan yang sangat berkomitmen kepada pekerjaan, dan disiplin itu terjaga hingga pensiun. “MVVS baru dibuka tahun 1951. Kami angkatan ketiga. Angkatan pertama tahun 1951 itu [salah satu muridnya] Kakak Seli Samay, [beliau] sudah meninggal di Belanda. Angkatan kedua, ada Kakak Clara Hendambo, [beliau ada] di Expo, Waena,” katanya.

Setiap lulusan MVVS dikenal sebagai perempuan yang terampil mengelola manajemen keluarga, mulai dari mengurus keuangan, menjahit, merangkai bunga, hingga merawat anak. Hal itu tidak mengherankan, karena siswa kelas akhir (siswa kelas 6) MVVS diwajibkan melakukan praktik lapangan dengan melatih kaum perempuan di sekitar Kota Genyem.

“Kami pergi ke kampung-kampung di Genyem, mengajar menjahit loyor [atau popok bayi], pakaian anak, masak. Seperti itu yang kami belajar di sekolah, kami teruskan kepada kaum Ibu,” katanya.

Saat itu, setiap jemaat gereja diwajibkan membuat wadah yang disebut “Kaum Ibu”. Para siswa tingkat akhir MVVS akan melakukan praktik lapangan dengan mengajar para perempuan anggota Kaum Ibu di berbagai kampung sekitar sekolah.

“Jadi Mama masih ingat, Kampung Genyem Besar, kampung di sebelah [sekolah]. [Di sana] ada lapangan terbang, Yakotim. Kami ke situ untuk mengajar kaum ibu. Selesai sekolah jam 13.00,  makan sudah siap. Angkat papan flanel dengan gambar-gambar cerita Alkitab, bahan untuk keterampilan, angkat, lalu berangkat,” ujarnya.

Setiap dua siswa MVVS akan mengajar satu kelompok Kaum Ibu. Mereka akan mengajar sampai pukul 17.00, lalu bergegas kembali ke asrama. Para siswi MVVS bukan hanya belajar ilmu pengetahuan dan keterampilan, karena mereka dipersiapkan menjadi trainer dan pemimpin.

“Jadi waktu selesai sekolah, yang tidak terpilih untuk lanjut sekolah, langsung pulang kampung, siap untuk menikah. Yang terpilih, lanjut sekolah,” kata Marthina.

Ia lulus dari MVVS pada usia 16 tahun. Dua lulusan terbaik diperkenankan ikut ujian di Yoka, untuk mengikuti studi lanjut. Lulusan terbaik bisa melanjutkan pendidikan mereka ke sekolah guru Opleiding Scholen voor Dorps Onderwijzers (ODO) Serui, atau mengikuti pedidikan di (Primaire Middlebaire School (PMS) Kotaraja, Kota Jayapura.

Marthina lulus pada pertengahan tahun 1956. Marthina berkesempatan untuk melanjutkan pendidikannya ke ODO Serui.

ODO (Opleiding Scholen voor Dorps Onderwijzers 1956 – 1959

Tidak semua lulusan dari MVVS atau JVVS (sekolah sambungan khusus untuk pria) bisa menempuh pendidikan di ODO. Setiap lulusan MVVI dan JVVS yang ingin bersekolah di ODO harus mengikuti tes. Jika nilai mereka di atas rata-rata dan dinyatakan diterima, barulah mereka bisa melanjutkan pendidikan di ODO.

“Untuk tes, kami dari Sarmi sampai Holandia harus tes di Yoka. Jadi kami mesti jalan kaki dari kampung ke Yoka,” kenangnya.

Setelah hasil tes diumumkan dan dirinya dinyatakan lulus, Marthina berangkat menggunakan kapal laut ke Serui. Pada 1 September 1956, ia tiba di Kota Serui. Ia ingat, tak lama berselang, tepatnya pada 26 Oktober 1956, Gereja Kristen Injili di Tanah Papua berdiri.

ODO Serui memiliki dua kelas pararel, dan jumlah siswa pada angkatan Marthina mencapai 60 orang. Ketika itu, hanya ada hanya tiga perempuan yang bersekolah di ODO Serui. Kedua teman perempuan Marthina itu adalah Adorce Woisiri yang berasal dari Wondama, dan Polovina Maran yang berasal dari Korido. Ketiganya lantas dititipkan ke asrama MVVS Serui, dan tinggal di sana selama masa pendidikan mereka di ODO Serui. Sementara para siswa laki-laki tinggal di asrama yang berada dalam area sekolah ODO.

“Tiap hari kami [ bertiga] jalan kaki ke sekolah. Tidak terlalu jauh,” katanya.

“Semua guru orang Belanda. Hanya satu orang Papua, Pak Tom Wospakrik yang mengajar Bahasa Melayu,” kata Marthina.

Di ODO, para murid belajar ilmu pendidikan, Bahasa Belanda, matematika, Bahasa Melayu, geografi, kesehatan, ilmu alam, menggambar, dan menulis indah. Mereka belajar sejak pukul 07.30 dan berakhir pada pukul 13.00.

Seperti di MVVS, setiap sore di ODO Serui diisi kegiatan kerja bakti di sekitar sekolah. Pada malam hari, para murid mengerjakan pekerjaan rumah, dan harus tidur pada pukul 21.00.

“Mama sudah biasa bangun jam 05.00 di MVVS, jadi rasa biasa saja. Kalau ada waktu rekreasi, Mama sama-sama teman-teman ke Kota Serui,” katanya.

Mirip dengan MVVS, musim liburan di ODO tiba pada bulan Agustus. Para siswa mendapat libur selama satu bulan, dan bisa pulang ke kampung halaman masing-masing dengan menggunakan kapal laut.

Saat naik ke kelas 3, para siswa putri ODO Serui dipindahkan dari asrama MVVS ke rumah guru. Marthina tidak tahu pasti, alasan mereka dipindahkan ke sana. Apakah untuk melihat aktivitas istri guru Belanda, membantu istri guru, juga membantu merawat anak-anak guru.

“Saya dan adik kelas saya, Martha Paisey dari Randawaya, tinggal di satu keluarga.  Kemudian Else Ayamiseba dan Adorce Woisiri di satu guru. Polovina Maran, sa punya kawan pena dari MVVS, tinggal di satu keluarga. Itu kesempatan [bagi kami untuk] membantu Nyonya,” katanya. Menurutnya, setiap malam hari, mereka tetap diberikan kesempatan untuk mengerjakan PR.

Saat kelas 3 ODO, Marthina dan kawan-kawannya mulai melakukan kerja praktik mengajar di Lagere School B  (disingkat LSB, sekolah rakyat rendah) di sekitar Kota Serui. LSB adalah sekolah untuk sekolah dasar untuk anak-anak pribumi.

Sementara Large scholl A (LSA) adalah sekolah dasar untuk anak-anak Belanda dan beberapa anak pegawai pribumi bisa bersekolah di sana. Berbeda dengan Dorpsschool yang memiliki masa pendidikan tiga tahun, masa bersekolah di LSA maupun LSB adalah enam tahun.

Marthina menjalani pendidikan di ODO Serui selama tiga tahun, tanpa hambatan berarti. Ia lulus pada tahun 1959.

Pengabdian sebagai guru (1959 -1961)

Setalah lulus dari ODO, Marthina tidak menunggu lama untuk bekerja. Pada 1959, ketika umurnya 21 tahun, Marthina mulai bekerja sebagai guru di salah satu sekolah yang dikelola Yayasan Pendidikan Kristen (YPK), yayasan pendidikan Sinode Gereja Kristen Injili di Tanah Papua.

“Dari Serui, tamat, langsung dapat tempat dari YPK. Kami dipanggil menghadap, semua [lulusan ODO dipanggil] dan dapat tempat. Saya dapat tempat di Meukisi, kampung di sebelah kampung saya, Bukisi,” katanya.

Di kampung itu, ada seorang kepala sekolah yang mengajar untuk tiga kelas. Kepala sekolah itu bermarga Abisai, orang Dormena. “Kami sama-sama mengajar. Bapak guru mengajar kelas 1 dan kelas 3 saya mengajar kelas 2,” kata Marthina.

Ia mengajar di Meukisi sejak 1959 sampai 1960. Pada pertengahan 1960, seorang pengawas sekolah YPK dari Genyem datang berkunjung ke sekolah tempat Marthina mengajar. Jabatan resmi pengawas sekolah itu dikenal sebagai RSB.

“[RSB] masuk kelas, lihat saya, juga Bapak Kepala Sekolah, mengajar. Bapak pengawas sekolah itu pergi. Lalu datang Bapak Pendeta Belanda kunjungi kami, juga di sekolah. Selesai kembali ke Genyem, [mereka] kirim surat, saya harus siap untuk ke Genyem. [Saya] pindah ke Genyem,” katanya.

Marthina berangkat ke Genyem untuk mengajar di MVVS pada Agustus 1960. Di sekolah MVVS Genyem, ia mengajar bersama tiga guru perempuan berkebangsaan Belanda.

“Saya mengajar satu tahun. Tanpa saya tahu, berita datang lagi tahun 1961,” katanya. Berita itu meminta dia ke Holandia (Kota Jayapura) untuk persiapan studi ke Belanda.

“Jadi tanpa saya tahu semua, saya punya perjalanan itu diatur,” katanya.

Studi ke Belanda

Pada Agustus 1961, Lukas Damimetouw dan Ribka Nerokopouw mengantar putri mereka ke bandar udara untuk berangkat dengan pesawat terbang KLN ke Biak. Di Biak, Marthina bertemu dengan perwakilan dari Biak, Arnolda Aronggear, seorang lulusan PMS Kotaraja. Ia juga bertemu utusan Kota Serui, Elsa Ayamiseba, seorang lulusan ODO Serui.

Ketika itu, ada enam orang laki-laki lain yang juga yang diberangkatkan ke Belanda. Tapi Marthina sudah tidak ingat nama mereka. Di dampingi seorang guru perempuan dari PMS, Marthina dan teman-temannya melanjutkan studi ke Belanda, yang direncanakan akan berlangsung selama 5 tahun.

Di Belanda, Marthina dan teman-temannya mengikuti studi di sekolah menengah kejuruan berasrama di Landbouw Huishoud School yang berada di Kota Zetten, Gelderland. Satu kamar berisi lima hingga tujuh siswa. Siswa Papua di tempatkan di kamar yang berbeda-beda.

“Jadi kami tinggal di asrama, kami tidak dipisahkan sendiri, tapi bersama-sama dengan teman-teman Belanda. Bagusnya, itu yang selalu saya renungkan. Sekarang ini, kalau studi jauh, orang tinggal di kos-kosan, terpisah sendiri. Tapi dulu [saat] saya pergi ke Belanda, [saya tinggal] di satu kamar bersama-sama dengan teman-teman Belanda,” katanya.

Siswa Papua dipaksa berbicara dengan teman sekamar yang berasal dari Belanda. Di dalam asrama, Marthina dan teman-temannya terus belajar Bahasa Belanda. Bahasa Belanda digunakan dalam percakapan di antara teman satu kamar, juga di meja makan. “Di meja makan juga kami dibagi duduk sama-sama dengan teman-teman Belanda makan sama-sama,” katanya.

Saat bersekolah di Belanda, Marthina dan teman-temannya tidak pernah menggunakan masa liburan untuk pulang ke Papua. Selama masa liburan, mereka akan tinggal bersama orangtua angkat.

“Hubungan saya dengan anak-anak orangtua angkat ini baik sampai sekarang. Kami masih saling berkirim surat. Kalau sekarang kirim email,” kata Marthina bercerita. Itulah mengapa kemampuan berbahasa Belanda Marthina dan teman-temannya meningkat pesat selama dua tahun masa bersekolah di sana.

Pada tahun 1963, situasi politik di Tanah Papua berubah, seiring pengalihan penguasaan Tanah Papua dari Kerajaan Belanda ke Indonesia. Marthina dan teman-temannya mendapat kabar dari pusat Zending, bahwa semua orang Papua yang sedang studi di Belanda diminta kembali ke tanah air.

“Seharusnya di tahun ketiga ini kami kembali ke Papua untuk praktik dengan satu orang ibu guru. Tapi karena zaman peralihan, sekolah tidak mendapat kepastian. Kami berhenti sekolah dan tinggal bersama orangtua angkat, tunggu kabar dari sekolah,” katanya.

April 1963, setelah Paskah, sebagian besar siswa Papua yang bersekolah di Belanda dipulangkan kembali ke Papua. Atas pertimbangan orangtua asuhnya, Marthina dan Else tetap tinggal di negeri Belanda. Mereka berharap bisa menyelesaikan pendidikan mereka.

“Orang Kedutaan Besar RI di Den Haag, namanya Mohammad Sharif Padmadisastra. Dia bicara, ‘kalau mereka mau tinggal, boleh tapi sampai Agustus [1963]. Kalau setelah Agustus saya tidak bertanggung jawab’. Itu kata-kata dari Kedutaan Besar RI kepada orangtua asuh [saya],” ujar Marthina.

Pada Juli 1963, Marthina dan Else mengikuti ujian dan menyelesaikan pendidikan tiga tahun mereka. Mereka mendapatkan sertifikat telah menyelesaikan pendidikan tiga tahun mereka, dan kembali ke Tanah Papua pada Agustus 1963.

“Kami dua pulang bulan Agustus [bersama] dengan dua pendeta, [yaitu] Pendeta Hokoyoku yang sudah meninggal di Belanda, [dan] Pendeta Deda dari Ayapo. Kami empat yang terakhir sampai di Indonesia. Kami tidur di Hotel Indonesia,” katanya.

Kembali ke Tanah Papua

Kembali ke Tanah Papua, Marthina di tempatkan di Biro Wanita, Kantor Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah. Ia bekerja di sana sampai tahun 1967 ia dipanggil untuk mengajar di Pusat Pengaderan Pelayan Sosial atau P3S (sekarang P3W) di Padang Bulan, Kota Jayapura. Itu adalah pusat pelatihan perempuan yang dirancang sebagai sekolah berasrama.

Pusat Pengaderan Pelayan Sosial itu didirikan oleh Sinode GKI di Tanah Papua pada 2 April 1962. P3S itu didirikan karena sinode membutuhkan tenaga wanita yang terampil dan terpanggil dalam usaha pengembangan kualitas hidup kaum ibu dan  remaja  di kampung-kampung. Dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya, Marthina mengajar di sana.

Pada tahun 1968, Marthina kembali mendapatkan tugas belajar. Kali ini ia ditugaskan untuk belajar di Rabaul, East New Britain, Papua Nugini. Di sana, ia belajar Pendidikan Pelayanan Sosial Gereja selama dua tahun. Ia menjalani tugas belajar di Papua Nugini itu bersama pelatih P3S yang lain, Yoyo Rumadas, serta beberapa orang lain yang diutus Sinode GKI di Tanah Papua.

“November 1970, selesai kursus, kami pulang. Waktu itu, [masa pendidikan] angkatan ke-6 P3S Padang Bulan sudah dimulai. Kami dua mulai mengajar di sana,” ujar Marthina.

Sejak awal, Marthina tergolong menonjol di antara para pengajar P3S Padang Bulan. Ia pernah ditawari menjadi pimpinan di sana, namun ia menolak. Setelah tiga kali ditawari untuk menjadi pimpinan P3S Padang Bulan, Marthina akhirnya menerima tawaran itu.

“Saya terima bukan karena saya bisa, tetapi ini kesempatan buat saya belajar,” katanya.

Marthina dilantik menjadi pimpinan P3S pada 18 Desember 1970. Ia bekerja di sana sampai tahun 1985.

Refleksi Marthina

Sebagian bagian para perempuan Papua pertama yang merasakan pendidikan modern pada masa Kerajaan Belanda menguasai Tanah Papua, Marthina memiliki banyak kegelisahan melihat carut-marut dunia pendidikan di Tanah Papua pada hari ini. Ia membagikan sejumlah refleksinya.

Marthina melihat hari ini ada begitu banyak asrama bagi pelajar atau mahasiswa, akan tetapi para penghuninya hidup sendiri-sendiri, tanpa pengawasan dari pembina asrama yang tegas. Para pelajar dan mahasiswa yang tinggal di asrama saat ini tidak pernah diajar untuk disiplin menjalankan tugas rutin, dan jarang mendapatkan pelatihan beragam keterampilan.

“Asrama ini jadi tempat tinggal saja, bukan tempat belajar seperti dulu,” katanya.

Menurutnya, sistem pendidikan di Tanah Papua hari ini tidak melatih seseorang untuk memiliki keterampilan atau skill. “Banyak orang sekolah tinggi-tinggi, tapi tidak memiliki keterampilan. Kalau dulu selesai sekolah kita bisa langsung praktik di masyarakat, kini banyak anak muda hanya menunggu pekerjaan,” katanya.

Ia membandingkan kualitas lulusan perguruan tinggi hari ini dengan kualitas seorang lulusan MVVS pada tahun 1950-an. Misalnya seorang lulusan MVVS yang pulang ke kampung dapat mengajarkan berbagai ilmu dan keterampilan mereka kepada persekutuan kaum perempuan di kampung. “Padahal ,dulu itu [MVVS hanya setara pendidikan] tingkat sekolah dasar, tapi lulus mereka mampu bekerja,” katanya.

Ia juga prihatin dengan penguasaan bahasa para siswa dan mahasiswa hari ini. Sebagai lulusan MVVS, Marthina sudah fasih berbahasa Belanda dan Melayu. “Saat ini saya bisa berbicara Bahasa Indonesia, Belanda, Inggris dan Tok Pisin,” ujarnya.

Bagi Marthina, kunci kualitas pendidikan pada masa lampau adalah kinerja dan kedisiplinan para tenaga pendidik pada masa itu, dan kegigihan mereka melatih muridnya untuk berdisiplin.  “Disiplin ini kita latih waktu di asrama. Setiap hari bangun jam 05.00, padahal kami masuk kelas jam 07.30. Tapi sampai dengan sekarang ini, saya bangun jam 05.00” katanya.

Ada beragam cara untuk membenahi kualitas pendidikan di Tanah Papua. Bahkan, ada banyak pelaku sejarah yang bisa dirujuk sebagai sumber pembanding untuk mencari cara menata lagi pendidikan di Tanah Papua. Marthina Damimetouw adalah salah satunya. (*)

Sumber: Jubi.id